“Jantungku
terasa sakit, entah kapan ini akan
berakhir. Apakah aku akan mati secara perlahan dengan cara seperti ini? Aku
memang tidak tau tapi aku tetap percaya suatu saat Allah akan memberika
kemudahan kepada ku, tapi ku tak tau kapan itu terjadi.”
Semuanya bermula dari aku kelas 6 SD, saat
dimana kedua orang tuaku membangun sebuah kos kosan dan warung di suatu
tempatdi belakang UNS. Mulai sejak itu aku sering sendirian di rumah, tak
mengenal siapa-siapa, dan jarang keluar rumah. Setiap hariku aku hanya berharap
“Ya Allah kapan ayah dan ibuku menegerti dan memberikan perhatian lebih
padaku?”. Terus berharap, menangis, dan berdoa.
Saat aku kelas 7 aku tinggal di kos kosan.
Hidup hanya dengan sedikit uang dan mengurus diri sendiri. Mulai dari belajar
sendiri, masak sendiri, makan sendiri, berangkat sendiri, pulang sendiri,
semua. Aku hanya bahagia di sekolah pulangkku selalu sore, karena di sekolah
aku memiliki banyak teman yang dapat mengerti diriku. Bercada tawa, hingga
semuanya sedih kita tanggung bersama. Sangat bahagia.
5 Oktober 2013 tepat ulang tahunku ke 11
saat aku masih duduk di kelas 6. Dimana saat semua tak ingat hari apa itu.
Hatiku sangat hancur, tak tau harus apa lagi. Tapi aku berdoa dan berharap
tahun depan lebih baik.
Dan semua di mulai lagi saat aku masuk
RISMA, aku sangat senang bertemu teman baru. Dan juga saat aku masuk sanggar.
Tapi sayang itu tak bertahan lama.
Tanggal 5 Oktober 2014, aku berulang tahun ke
12. Sama seperti tahun lalu ‘semunya
lupa dengan hari apa itu’. Semuanya sibuk hanya teman teman yang menucapkan
selamat. Semuanya sama aku lagi lagi sedih, hatiku terasa sakit. Tak ada yang
mengetahui apa yang aku rasakan mungkin hanya Allah yang tau keadaan hamba-Nya.
Lagi lagi aku berharap, agar tahun depan menjadi lebih baik.
Saat aku kelas 8 semuanya berubah, duniaku
berubah, cobaan ku semakin banyak. Dari kisah cinta yang indah semuanya
berakhir secara teragis. Dari teman temanku yang harus terpecah belah. Hingga
semua masalah numpuk.
Untuk kisah cinta yang berakhir teragis, dimulai
dari tanggal 4 Oktober 2015. Aku melihat segalanya, seseorang yang aku selalu
doakan walau dia tidak member perhatianya padaku lagi. Ke selalu berdoa kepada
Allah kalau semua akan membaik. Tapi apa kebenaran yang sangat pahit.
Seandainya aku tau kalau semua ini akan terjadi. Kalau aku tau aku tak akan
melakukannya. Semua doaku apa artinya kalau orang yang aku doakan selama ini
hanya menyianyiakan diriku. Kalau masalah surat yang aku berikan yang ingin dia
bakar tidak diketahui oleh ku, semua pasti akan ia lakukan. “Apakah menang hatiku ini hanya untuk disakiti oleh orang lain?”.
Aku terus berpkir seperti itu, aku tak melakukan kesalahan apa pun, tapi
mengapa sekarang aku yang terkena dampaknya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar